Sempat Tak Diperbolehkan Ke ICU, Sub Humas RSUDAM Tindak Lanjuti Keluhan Pasien Kangker Payudara

BANDARLAMPUNG, INTAILAMPUNG.COM – Sempat menimbulkan kehebohan, lantaran pasien pengidap kangker payudara setadium IV yang di rawat di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM), Bandarlampung, tak diperbolehkan di rawat ke ruang Intensive Care Unit (ICU), Kepala Sub Humas RSUDAM Ahmad Sapri angkat bicara.

Sapri meyangkal, bahwa tidak semua pasien yang lemah masuk ICU.

“Harus di ketahui bahwa pasien yg masuk ICU itu harus ada indikasi medis seperti gagal napas atau jantung dan itu kewenangan dokter bukan permintaan keluarga,” bantahnya.

Dalam keteranganya, Sapri menuturkan, bahwa telah menindaklanjuti keluhan pasien. “Ia sudah diurus,” kata dia.

Diberitakan sebelumnya, Keluarga pasien di Ruang Kenanga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Moeloek mengeluhkan pelayanan medis yang diterima.

Ironinya, pasien bernama Yuniarti (50) warga Kampung Sawah Brebes, Kota Bandar Lampung yang sejak awal dalam kondisi pingsan tidak dirawat ke ruang Intensive Care Unit (ICU). Yuniarti disebut mengidap penyakit kanker payudara stadium IV.

Kepada wartawan, Senin (17/6/2019), perwakilan keluarga pasien Alfian, mengatakan bahwa pelayanan yang diterima kerabatnya Yuniarti dirasa tidak nyaman sejak Sabtu (15/6/2019) lalu.

Dia mengaku telah menyampaikan permintaan untuk mendapat perawatan ke ICU sudah diajukan ke dokter jaga pada ruangan tersebut namun tidak disetujui.

Atas keluhannya, awak media melakukan konfirmasi kepada dokter jaga. Dalam penjelasan dokter jaga saat itu, penempatan pasien ke ruang ICU haruslah melalui persetujuan Kepala Ruangan ICU.

Dia mengatakan, bahwa penempatan seorang pasien di ruang ICU haruslah dengan penilaian tertentu. Kondisi pasien yang saat ini dianggapnya tidak layak mendapat perawatan ke ruang ICU. Dengan alasan, pasien atas nama Yuniarti sudah mengalami penyakit yang kompleks.

  Lamban Evakuasi Kecelakaan, Pengelola Tol PT HK Dituntut Tangung Jawab

“Protapnya itu kalau ke ICU, pasien yang masih diharapkan dapat sembuh. Bukan dalam arti pasien yang saat ini tidak punya harapan sembuh. Kalau dilihat dari rekam medis, ini sudah komplikasi,” kata wanita mengaku dokter jaga dari pukul 14.00 sampai 21.00 WIB, bernama Yeni.

Dia menegaskan bahwa penempatan pasien tersebut sudah pasti berdasarkan pertimbangan dokter.

Safira, anak dari Yuniarti mengatakan bahwa pertama kali ibunya masuk ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD) tidak mendapat perawatan yang sebelumnya pernah dialami di Rumah Sakit Graha Husada.

“Beda. Kemarin itu sempat dirawat di Graha. Waktu itu ibu dicek sama perawat sana. Itu terjadi 29 Mei kemarin. Kalau di sini, tak ada dicek seperti di Graha,” tuturnya.

Saat mendapat perawatan di ruang Kenanga, untuk memberikan obat kepada sang ibu pun harus dilakukannya sendiri.

“Ibu kan sudah tidak sadar. Ada selang di mulut. Saya sendiri yang gerus obatnya supaya halus. Terus masukin sendiri ke selang itu,” akunya. (Bon)

Baca Juga

LAINNYA