INTAILAMPUNG.COM – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Bandar Surabaya, Lampung Tengah, menjadikan kedisiplinan sebagai prioritas utama pihak sekolah dalam membentuk karakter siswa, agar mandiri dan bertanggung jawab atas tindakan dan kewajibannya.
Kepala SMPN 1 Bandar Surabaya, Lamteng, l Nengah Suhartana, M,Pd., menyebut hal itu menjadi salah satu tata tertib dan kurikulum dilingkungan sekolah yang di Pimpinnya. Seperti setiap hari Sabtu, mulai dari masuk hingga pulang dari sekolah para siswa, membiasakan memberi salam kepada dewan guru, piket kebersihan lingkungan sekolah, Sholat dhuha bersama, apel eskul pramuka, dan kegiatan rutin lainnya.
“Ibarat kalau kita membuat bonsai, tentu kita buat saat pohon masih berusia muda, agar lebih maksimal hasilnya. Begitu juga dengan membentuk karakter siswa yang kita mulai sejak mereka masih di bangku sekolah menengah, dan hasilnya akan kita lihat saat mereka masuk ke jenjang sekolah menengah atas,” ungkap l Nengah, Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, untuk membentuk karakter siswa di mulai dari hal-hal kecil, seperti membiasaan masuk sekolah tepat waktu, mengenakan seragam rapi sesuai ketentuan, berbaris tertib, menjaga kebersihan lingkungan, menaati tata tertib sekolah, serta sikap saling menghormati, baik dengan sesama dan kepada para guru.
Ketua MKKS SMP se-Kabupaten Lamteng ini menyampaikan, bahwa dengan cara pendekatan disertai contoh keteladanan para guru dan konsistensi memberikan sanksi edukatif bagi siswa yang melanggar aturan.
“Tentunya tujuan pembentukan karakter siswa itu, untuk membiasakan siswa mandiri dan bertanggung jawab atas tindakan serta kewajibannya. Membentuk karakter jujur melalui kepatuhan aturan tanpa pengawasan ketat., dan pengendalian diri dalam melatih siswa mengelola emosi dan bertindak sesuai norma,” bebernya.
“Sesuai dengan kurikulum profil pelajar pancasila, dalam mewujudkan karakter beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan berkebinekaan global. Implementasi itu umumnya didukung dengan pembiasaan, keteladanan, dan kerja sama antara pihak sekolah, orang tua, dan siswa itu sendiri,” pungkas Nengah. (red)












