Jawab Keresahan Masyarakat, Ditengah Wacana Penghematan Energi, Kadisdikbud Lamteng Tegaskan Pembelajaran Utamakan Tatap Muka

INTAILAMPUNG.COM – Wacana pembelajaran di sekolah yang akan menerapkan sistem jarak jauh atau daring sempat mencuat di kalangan masyarakat.

Ini berkaitan adanya strategi penghematan energi akibat kondisi global yang akan diberlakukan pemerintah. Sebagaimana diketahui bersama, pemerintah sedang menyiapkan aturan kerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari dalam sepekan bagi ASN.

Kabar pembelajaran daring sempat menimbulkan keresahan bagi orang tua siswa. Mereka menilai pembelajaran daring kurang efektif.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Lampung Tengah Dr. Nur Rohman, SE., M.Sos.I., memastikan bahwa proses pembelajaran sekolah di wilayah Lampung Tengah tetap berlangsung secara tatap muka (luring) seperti biasa.

Dia menjelaskan wacana penghematan energi tersebut tidak diberlakukan di sektor pendidikan. Langkah ini diambil untuk menjaga kualitas pendidikan dan mencegah terjadinya penurunan.

“Menjawab kekhawatiran orang tua murid yang sempat resah dengan kabar peralihan ke sistem daring, Kami pastikan di wilayah Lampung Tengah tidak ada perubahan. Kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung secara tatap muka,” kata Nur Rohman, Kamis (26/3).

Pembelajaran langsung di kelas, lanjut Nur Rohman, masih menjadi metode paling efektif hingga saat ini. Terutama dalam menjaga kualitas pendidikan dan pengawasan terhadap siswa.

Hadirnya guru secara langsung mendampingi anak didik sangat penting untuk memastikan proses belajar mengajar berjalan optimal.

“Pendidikan berkaitan dengan masa depan generasi. Jadi harus dipastikan berjalan optimal. Daerah siap mengikuti kebijakan pusat yang mengutamakan pembelajaran luring,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti telah memastikan tidak ada pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh bagi siswa sebagai bagian dari kebijakan penghematan energi.

“Aturan tersebut tidak diperlukan untuk sektor pendidikan. Jadi pembelajaran akan tetap langsung sebagaimana mestinya,” kata Abdul Mu’ti. (frt/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *