Ketua DPC PSI TUBA Bersuara, Feli Yandika: Rakyat Butuh Kerja Nyata, Bukan Kegaduhan!

INTAILAMPUNG.COM, TULANG BAWANG– Di tengah ramainya perbincangan publik mengenai polemik dugaan ijazah palsu dan isu penyadapan, Ketua DPC PSI TUBA, Feli Yandika, S.H., mengingatkan agar perhatian bangsa tidak hanya tersita oleh berbagai polemik, tetapi juga diarahkan pada persoalan mendasar yang menyangkut kehidupan masyarakat, khususnya stabilitas ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan ketersediaan lapangan pekerjaan.

Feli mengaku sebenarnya tidak ingin terlalu jauh berkomentar mengenai dinamika pemberitaan yang belakangan menjadi perbincangan luas. Namun, sebagai bagian dari masyarakat, ia menyampaikan keprihatinannya terhadap besarnya perhatian publik terhadap berbagai polemik tersebut.

Menurutnya, masih banyak persoalan bangsa yang membutuhkan perhatian serius dan penyelesaian nyata. Di antaranya persoalan kemiskinan, pengangguran, kenaikan beban kebutuhan pokok, serta kondisi masyarakat yang masih harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Sejujurnya saya sebenarnya tidak ingin terlalu banyak berkomentar tentang dinamika pemberitaan yang sedang ramai diperbincangkan saat ini. Namun, ada satu hal yang cukup saya sayangkan, mengapa kita begitu disibukkan dengan polemik ijazah palsu dan isu penyadapan? Apakah tidak ada persoalan lain yang jauh lebih penting untuk dibicarakan secara serius dan membutuhkan perhatian bersama?” ujar Feli.

Ia menegaskan, Indonesia saat ini membutuhkan kerja-kerja konkret, bukan sekadar perdebatan yang terus menjadi konsumsi publik. Menurutnya, energi bangsa seharusnya juga diarahkan pada langkah nyata untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membuka lapangan kerja, serta memastikan kebutuhan pokok semakin terjangkau.

Feli menilai, masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Persoalan kemiskinan masih membutuhkan penanganan serius, angka pengangguran perlu menjadi perhatian, sementara harga kebutuhan pokok masih menjadi beban bagi sebagian masyarakat.

Di sisi lain, masih banyak keluarga yang harus menghitung setiap pengeluaran dan berjuang keras agar kebutuhan hidup sehari-hari dapat terpenuhi.

  Ditelepon Megawati, Kapitra Tunda Laporkan SBY ke Polisi

Ia menyayangkan apabila persoalan yang seharusnya dapat disikapi secara proporsional justru menyita perhatian begitu besar, hingga persoalan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat berisiko kehilangan ruang pembahasan.

Meski demikian, Feli menegaskan bahwa dirinya tidak menganggap persoalan hukum, kejujuran, dan keterbukaan sebagai hal yang tidak penting.

Menurutnya, seluruh persoalan tersebut tetap harus diselesaikan sesuai dengan ketentuan hukum dan aturan yang berlaku. Namun, penyelesaiannya tidak boleh membuat bangsa melupakan berbagai persoalan mendasar yang menyangkut kehidupan jutaan masyarakat.

“Saya tidak mengatakan bahwa persoalan hukum, kejujuran, dan keterbukaan tidak penting. Tentu semuanya harus diselesaikan sesuai aturan. Namun, jangan sampai perhatian kita terhadap persoalan tersebut membuat kita lupa bahwa ada jutaan rakyat yang menunggu perubahan nyata dalam kehidupan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Feli mengajak seluruh pihak untuk melihat kondisi bangsa dari sudut pandang masyarakat kecil. Sebab, tidak semua masyarakat memiliki kehidupan ekonomi yang mapan dan mampu menghadapi tekanan kebutuhan hidup dengan mudah.

Menurutnya, masyarakat kecil setiap hari harus memikirkan pekerjaan, menghitung pengeluaran, serta memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Ia juga menekankan bahwa Indonesia tidak kekurangan persoalan untuk diperdebatkan. Hal yang lebih dibutuhkan saat ini adalah gagasan yang solutif, keberanian mengambil keputusan, serta langkah konkret yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Feli berharap perhatian publik dan para pemangku kepentingan tidak hanya terpusat pada polemik yang berkembang, tetapi juga memberikan ruang lebih besar bagi pembahasan mengenai masa depan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Sebab, pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan tontonan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah. Lebih dari itu, rakyat membutuhkan kehidupan yang lebih baik, ekonomi yang stabil, pekerjaan yang layak, serta masa depan yang lebih pasti.

  Kemhan: Kampus Berperan Penting Dalam Membentuk Karakter Bangsa

“Jangan sampai kita terlalu sibuk membicarakan kegaduhan, sementara persoalan kehidupan rakyat justru semakin kehilangan perhatian,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, Feli menyampaikan pesan bahwa keberhasilan sebuah negara seharusnya tidak hanya dilihat dari ramainya perbedaan pendapat di ruang publik, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyatnya.

“Karena ukuran keberhasilan sebuah negara bukan seberapa ramai perbedaan di ruang publik, melainkan seberapa baik negara itu mampu menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya.” (Swi/intai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *