Parah, di Lambar Proyek Bak Penampung Air Bersih Asal Jadi

 

Lampung Barat, Intailampung.com-Peroyek pembanguan air bersih, di Pemangku (Dusun) Tiga, Pekon Negri Ratu, Kecamatan Batu Berak, Kabupaten Lampung Barat (Lambar), terkesan proyek siluman dan asal jadi. Beruntung, saat bangunan tersebut jebol, tidak ada warga berada di tempat itu. Air bersih yang ditampung di bak (kolam) yang sumbernya dari pegunungan setempat, dengan mengalirkan dengan pipa paralon ukuran 2 inci, untuk mengisi,yang bangunan bak tersebut dibangun dengan cara pengecoran menggunakan bahan matreal pasir selit dan semen, dengan ukuran volume dua meter persegi,

Ironisnya, pembangunan bak penampung air tersebut tanpa papan informasi, sehingga tak jelas asal muasalnya sumber mata anggaranya, selain itu proyek tersebut juga diduga asal jadi sebab, hanya mampu bertahan 1 jam saja bak tersebut telah jebol total.

Menurut beberapa warga pemangku tiga, Suhendi, Eri dan Ahmad, angkat bicara, ia menjelaskan pembangunan bak penampungan air bersih tersebut, dikerjakan oleh Wawan selaku kepala tukang, yang juga merupakan bendahara Pekon Negeri Ratu, bersama Indra selaku kenek bangunan.

“Sangat disayangkan karena pembangunan pembuatan bak penampungan air tersebut, hanya mampu bertahan satu jam,” ujar Ahmad dan Eri dan Suhendi, Sabtu (18/1/2020)

“Bak baru diisi pada saat sore menjelang magrib dengan aliran paralon ukuran dua inci, begitu penuh langsung jebol pas waktu magrib itulah,” tambah mereka menjelaskan.

Dengan begitu, ia mengaku heran kenapa bangunan bak baru bisa serapuh itu, padahal menurut Suhendi, pengeringan dari pengecoran telah cukup lama, sekitar satu bulan baru peroses pengisian air.

“Kan sudah kering kalau sudah satu bulan jadi tidak mungkin kalau kurang kering. Kalau menurut saya kemungkinan itu faktor karena coran terlalu tipis, cuma 10 centimeter. Itu kemungkinan kalau menurut saya, karena saya juga tidak mengerti urusan bak (kolam) jebol, tapi kalau sawah jebol saya paham,” kata  Suhendi.

  Pemkab Lambar Harus Berperan Stabilkan Harga Kebutuhan Pangan

Ditempat terpisah, saat dikonfirmasi Wawan selaku tukang, sekaligus bendahara pekon setempat, terkesan buang badan, ia awalnya menyalahkan masyarakat pemangku tiga, “Karena sudah membuka dan mengisi bak penampungan, sementara bak (dinding coran) belum kering,“ kilah Wawan.

Wawan mengatakan, dikerjakan dari bulan November 2019, dan baru selesai terhitung sekitar pertengahan Januari 2020 pembangunan tersebut. Kendati begitu Wawan telah menjelaskan, bahwa masa waktu pengerjaan pembangunan bak penampungan air, memakan waktu sepuluh hari.

Ditempat terpisah, Herpin Adya selaku peratin (kades) Negeri Ratu saat wawancarai di kediamannya, terkait masalah tersebut, mengingat Peratin selaku penanggung jawab seluruh kegiatan pekon.

Saat ditanya masalah papan informasi kegiatan (papan plang) dan berapa anggarannya, Herpin Adya menjawab santai. “Untuk papan plang memang tidak ada, jadi bereapa besaran anggaran dananya saya lupa,” kata Herpin Adya.

Dirinya juga tak mempermasalahkan, terkait masalah tersebut diberitakan. “Silahkahkan beritakan dengan penilaian asumsi kalian menyikapi musibah ini, tapi yang jelas saya sudah di monev pihak kecamatan, dan mereka menilai ini murni musibah, dan saya siap mengembalikan matrial, tapi kalau untuk upah pekerja silahkan masyarakat swadaya,” tegas Herpin.

Sementara, komentar tegas diungkapkan oleh, Suhartato selaku Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) PIN-RI kepada dinas terkait agar bisa memberikan tindakan yang tegas terkait proyek-proyek yang anggaranya dari uang negara, hal ini tentu demi kepentingan masyarakat banyak. Sebab, ia menilai Pekon Negeri Ratu dari tahun 2018 seluruh bangunan diduga mark up, dan disinyalir tidak sesuai dengan rencana anggaran biaya (RAB). Ia menduga sampai saat ini masih bisa terulang kembali, toh apalagi, sampai  berkata santai masih berdalih dengan kata musibah. (Agus)

Baca Juga

LAINNYA