Kepsek SMPN 2 Liwa Tamzir.
INTAILAMPUNG.COM – Diduga selama 10 bulan di tahun ajaran 2018-2019 Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Liwa, telah melakukan Pungutan Liar (Pungli) terhadap kurang lebih 400 siswa didik dengan nominal Rp 30 ribu per siswa.
Seperti diungkapkan wali murid yang enggan namanya disebutkan, Jumat (11/12). Mengaku, dirinya telah membayar lunas selama satu tahun sebesar Rp.360 ribu.
Menurut dia, uang tersebut akan diperuntukkan untuk kegiatan ekskul, yang mana kegiatan itu dilakukan di sekolah tersebut.
Dia juga menambahkan, tidak semua siswa membayar lunas pada waktu itu, kebetulan dirinya sedang ada rejeki dan dapat melunasinya.
“Saya kebetulan ada rejeki dan membayar lunas satu tahun untuk kegiatan ekskul itu,” ungkapnya
Sementara itu, Tamzir selaku Kepala Sekolah SMPN 2 Liwa mengakui adanya sumbangan tersebut selama 10 bulan. Uang tersebut dipergunakan untuk kegiatan IPSI Kemenpora dan Taekwondo ke Piala Gubernur, bahkan sekolah tersebut berhasil meraih dua emas, dan satu perunggu.
Dia juga menyampaikan pada waktu itu, satu per satu media datang mempertanyakan prihal tersebut. Sekolah pun segera menyetop sumbangan tersebut dan banyak juga siswa yang tidak bayar.
“Ini ada berita acaranya, tapi sudahlah kita stop aja sumbangan itu kalau hanya Rp 30 ribu satu bulan saja jadi masalah dan mereka tidak iklas, padahal ini semua hasil rapat komite juga,” tegas Tamzir.
Selanjutnya, menurut Tamzir masalah sumbangan tersebut sudah selesai dan pihak dinas memberi izin, bahkan hasil rapat wali murid dan komite pihak sekolah tidak ikut.
“Saat rapat komite dewan guru dan kepsek tidak ikut cawe-cawe,” kata dia.
Terpisah, Ketua Komite SMPN 2 Liwa M Yurdi saat dikonfirmasi melalui ponselnya, dirinya mengaku, sumbangan itu rencananya akan diadakan selama satu tahun, namun sebelum selesai, sudah ada masalah dan akhirnya sumbangan itu diberhentikan.
“Saya sebenarnya sudah tiga kali mengajukan pengunduran diri namun tidak ada yang mau mengganti posisi saya, akhirnya ya dijalani aja,” paparnya.
Masih kata Yurdi, mengenai kwitansi pembayaran satu tahun yang ada tanda tangan dirinya semua itu benar. Dan uang tersebut dulu dibelikan alat tari, dan nyambay.
Yurdi juga mengaku dirinya tidak pernah diberitahu berapa uang yang sudah terkumpul selama 10 bulan, karena semua itu sekolah yang mengumpulkannya.
“Jujur saya juga tidak pernah menanyakan jumlah uang tersebut, hanya menerima laporan guru kalau habis beli alat-alat, itu juga gak saya catat orang nulis saja saya gak jelas kok,” tutupnya. (rian)












