Geser Markas ke Jateng, Prabowo-Sandi ‘Ekspansi’ ke Jantung Lawan

Geser Markas ke Jateng, Prabowo-Sandi 'Ekspansi' ke Jantung Lawan

Calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno

JAKARTA – Rencana pemindahan posko Badan Pemenangan Nasional (BPN) calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Jawa Tengah dinilai sebagai sesuatu yang menarik.

Melalui cara itu, Prabowo-Sandi dinilai sedang melakukan perang urat saraf (psywar), membunuh, menjinakkan mental lawan di “kandang banteng”, sebutan bagi Jawa Tengah yang selama ini dikenal sebagai basis massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Baca Juga

“BPN Prabowo-Sandi sedang melakukan penetrasi dan ekspansi ke jantung lawan. Saya pikir ini adalah sesuatu yang normal, Prabowo-Sandi sedang berupaya memperkecil ketimpangan (margingap) elektoral di Jawa Tengah,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Research Center, Pangi Syarwi Chaniago, Selasa (11/12/2018).

Dia menilai langkah politik itu sebagai cara bagi kubu Prabowo-Sandi untuk melihat respons berbagai pihak, termasuk kubu lawan.

“Paling tidak mencoba mengimbangi suara Jokowi di Jawa Tengah, syukur-syukur kalau menang, dan sulit memang karena medannya enggak mudah, punya tantangan tersendiri. Namun sepertinya BPN Prabowo-Sandi sedang melakukan ‘cek ombak’ (testing the water),” tuturnya.(Baca juga: )

Pangi memaparkan pada Pemilu 2014, perolehan suara Jokowi-JK jauh lebih unggul sebesar 12.959.540 (66,65%) dibandingkan suara Prabowo-Hatta sebesar 6.485.720 (33,35%).

Dia pun mengungkap dalam strategi pendekatan polical marketing dikenal penentuan peta wilayah zonasi pemenangan berdasarkan aspek pemilih paling potensial yang terdiri dari variabel kepadatan penduduk, konsentrasi pemilih.

“Saya ingin katakan, Jawa jadi rebutan karena jumlah penduduknya besar dan padat, sehingga suara pemilih Jawa menjadi penentu,” tandasnya.

Pertama, kata dia, zona pertempuran primer. Jawa Tengah termasuk zona wilayah prioritas utama. Kedua, zona pertempuran sekunder, jelas ada target minimal, yaitu bagaimana mengimbangi suara Jokowi agar Prabowo tidak kalah telak, belajar dari kekalahan telak Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 di Jawa Tengah.

  Respons Gerindra Banyak Emak-emak Terpikat dengan Sandiaga Uno

“Sementara itu, agenda optimal adalah unggul dan memenangkan pertarungan pilpres 2019,” ujar Pangi.

Ketiga, kata dia, zona pertempuran tersier, yaitu bukan zona utama kampanye atau wilayah prioritas terakhir. Oleh karena itu, kata dia, pembacaan skala prioritas harus tuntas diselesaikan capres dan cawapres.

“Kita sepakat bahwa Jawa adalah kunci, memenangkan kantong suara Jawa otomaticly memenangkan pilpres 2019. Prabowo harus kembali menghitung dan meng-kalkulasi ulang faktor kekalahannya di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada Pilpres 2014,” tuturnya.

Menurut dia, memenangkan pilpres kuncinya adalah memenangkan Jawa. Tak bisa dipungkiri memenangkan kantong suara Jawa seperti provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta dan Banten menjadi zonasi pertarungan primer masing-masing pasangan capres dan cawapres.

“Prabowo sepertinya ingin mengulangi sejarah yang sama, bagaimana daya kejut Sudirman Said mampu mengimbangi Ganjar Pranowo pada Pilkada Jateng 2017, walaupun tidak menang. Salah satu faktornya kita bisa lihat dari pendekatan “patron klien”, yaitu meng-analisis karakter pemilih Jawa yang manut sama kiai,” tuturnya.

Dia menduga itu alasan Ganjar mengambil Gus Yasin, putra kiai Maimun Zubair dan Sudirman Said mengandeng Ida Fauziyah yang juga punya posisi strategis sebagai ketua umum Fatayat NU dan kader Muslimat NU.

“Saya mencermati, Prabowo Sandi mencoba kembali melakukan pendekatan khusus dengan maintenance simpul ulama dan kiai di Jawa Tengah,” katanya.

Sumber: SINDONEWS

LAINNYA

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *