Kabid CK PU PR TUBA Enggan Komentar Ditanya Proyek Taman Simpang Penawar Diduga Dikerjakan Gotong Royong


Intailampung.com-Tak hanya dugaan kuat jika proyek di PU PR Kabupaten Tulangbawang dikondisikan karena adanya broker dalam perkerjaan proyek taman simpang penawar. Namun pekerjaan proyek itu diduga dilakukan secara gotong royong oleh sejumlah perusahaan.

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Kabupaten Tulangbawang Abdul Latief Gunawan,S.T.  enggan berkomentar terkait dugaan proyek Proyek Taman Simpang Penawar  Kabupaten Tulangbawang yang dikerjakan orang dekat Bupati Winarti dan Ketua DPRD Tuba Sopi’i Azhari. 

Termasuk adanya tudingan pekerjaan tersebut dikerjakan secara beramai-ramai oleh sejumlah perusahaan Abdul Latief Gunawan pun tak mau berkomentar. 

“Kalau itu saya tidak bisa koment, saya berkontrak kerja dengan direkturnya saja,” ujar Abdul Latief saat dikonfirmasi awak media.

Abdul Latif menjelaskan sampai saat ini progres pekerjaan baru 30 persen dan pencairan uang kegiatan sudah 20 persen dari nilai proyek. Ia pun mengaku masih pekerjaan akan selesai sesuai jadwal.   

“Kalo soal selesai tepat waktu kita lihat saja ke depan. dan kita tunggu saja,” pungkasnya. 

Sebelumnya  LSM Gamapela mendesak aparat penegak hukum mengusut dugaan Kolusi Korupsi dan Nepotisme serta pengkondisian Proyek Taman Simpang Penawar Kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang Bawang senilai Rp 12,8 Miliar.

Pasalnya Gamapela menuding proyek tersebut kental aroma KKN dan terindikasi kuat dikerjakan orang dekat Bupati Tuba Winarti dan Ketua DPRD Tuba Sopi’i Azhari. 

Kami mendesak aparat penegak hukum menyelidiki dan mengusut dugaan KKN sejumlah proyek di Dinas PUPR Tulangbawang, salahsatunya proyek  Taman Simpang Penawar Kabupaten Tulang Bawang tahun 2021 senilai Rp 12,8 Miliar,” ujar Ketua Gamapela Lampung Tony Bakrie.

Menurut Tony Bakrie, proyek yang awalnya dimenangkan PT Tiga Putra Cipta Sarana (TPCS) kental dengan KKN karena ada pengakuan orang dekat Bupati Tuba dan Ketua DPRD Tuba berinisial Usm dan Frn yang menyebut proyek tersebut dikerjakan mereka. 

“Patut diduga tendernya juga tidak sesuai aturan. Awalnya  perusahaan yang menang PT TPCS, sedangkan perusahaan yang menawar paling rendah itu PT. Hagitasinar Lestarimegah.

Dua perusahaan ini sebenarnya rangking satu dan dua, nilainya penawarannya  sama persis hanya beda 44 poin. Tapi yang mengerjakan dan dapat kontrak malah PT. Talang Batu Berseri,” ungkap Tony Bakri. 

Tony menjelasakan, berdasarkan data dan informasi yang diperolehnya, kuat dugaan proyek tersebut dikerjakan beberapa perusahaan. 

“Kami juga mendapati fakta proyek taman itu dibagi-bagi, jadi memang yang menang PT. TBS, tapi itu kerjaan dibagi-bagi sama pemborong-pemborong lain. Ada yang ngerjain tamannya, ada yang buat taman bermain, ada yang mengerjakan danau buatan jadi istilahnya cak rata,” tukasnya. 

Selain itu sampai saat ini progres proyek dengan Nomor Kontrak : 02/KTR/Taman Simpang Penawar/V.3-C/TB/V/2021. Tanggal Kontrak : 18 Mei 2021 dengan waktu pelaksanaan 210 hari kerja kalender, belum terlihat jelas, meskipun rekanan sudah mencairkan sejumlah dana. 

Kadis PUPR Tulangbawang Puncak Setiawan sampai saat ini belum berhasil dikonfirmasi. 

Sebelumnya Sekretaris Kabupaten Daerah Tulang Bawang Anthoni sudah angkat bicara terkait tudingan sejumlah proyek di Kabupaten yang diduga dikerjakan orang dekat Bupati Winarti dan ketua DPRD Sopi’i Azhari. 

Menurut Anthoni semua pekerjaan termasuk di Tulangbaang termasuk proyek pembangunan Taman Simpang Penawar Rp 12,804  Miliar  sudah sesuai aturan. 

“Semua kegiatan sudah dikerjakan sesuai aturan,” ujar Anthoni saat ditanya awak media. Namun Anthoni tak berkomentar saat ditanya terkait dua nama oknum anggota PDIP Tuba yang  disebut-sebut menjadi broker proyek. 

Salahsatu rekanan sebelumnya menyebut dua nama Usman dan Frans yang diduga menjadi broker sekaligus rekanan dengan mengatasnamakan Bupati Winarti dan Ketua DPRD Tuba Sopi’i Azhari.

Rekanan itu juga menyebut dua orang kuat tersebut banyak mengerjakan sejumlah proyek besar di Kabupaten Tuba salahsatunya  pembangunan taman simpang penawar Kecamatan Banjar Margo senilai Rp 12,804  miliar.  

LSM Gamapela juga sudah sudah mendesak Winarti dan Sopi’i Azhari bertindak terkait tindakan dugaan 2 oknum anggota sekretariat PDI-P Tulang Bawang, Usman dan Frans yang dituding menjadi broker proyek dengan mengatasnamakan Bupati dan Ketua DPRD tulangbawang.

“Kami minta bupati dan ketua DPRD bersikap tidak mendiamkan kasus ini. Karena ini bagian membuktikan komitmen pejabat tuba bersih dari KKN. Kalau ini dibiarkan akan banyak korban-korban lain yang memberi uang dengan iming-iming proyek pepesan kosong. Atau jangan-jangan ada keterlibatan dari pejabat-pejabat itu,” pungkasnya. 

Sampai berita ini turun Bupati Tulang Bawang Winarti dan Ketua DPRD Tulangbawang Sopi’i Azhari yang dikonfirmasi masih bungkam dan belum pernah memberikan penjelasannya. Kedua pejabat tersebut tak mau memberikan penejlasaan meskipun ponsel mereka aktif. (Bong)

Baca Juga

LAINNYA