Ket,foto : Warga Kampung Jambu tunjukkan debu batu bara, mengotori rumahnya.
INTAILAMPUNG.COM – Warga Kampung Jambu tepatnya di RT 021, 022 dan 023, Kelurahlan Way Lunik, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung mengeluhkan dampak pencemaran debu batu bara.
Warga mengeluhkan limbah fly ash atau abu terbang dari cerobong asap PT Louis Dreyfus Company (LDC). Debu hitam sisa pembakaran batu bara dari pabrik biogas itu terbawa angin dan menyebar ke rumah-rumah warga.
Pengamatan intailampung.com, tampak debu batu bara berwarna hitam mengotori lantai rumah-rumah warga, terutama di RT 023 yang merupakan ring 1.
“Iya, kalau pintunya dibuka, debunya langsung masuk ke dalam rumah,” ujar Siti Maryam, salah seorang warga, saat ditemui dikediamanya, Selasa (21/02/2023).
Siti Maryam menuturkan, rumahnya terpapar debu berwarna hitam saat malam hari mesin beroperasi. Ia kesal lantaran pagi harinya harus membersihkan debu yang mengotori rumah, pakaian yang ia jemur pun kerap dikotori debu-debu tersebut.
“Yang paling bikin khawatir kalau debu hitam itu nempel di pakaian anak saya. Saya takut anak saya terpengaruh,” ucapnya.
Senada disampaikan Andi Irawan yang sudah tinggal di Kampung Jambu sejak lahir. Ia menjelaskan polusi debu batu bara memang sedikit berkurang sejak adanya hearing dengar pendapat bersama Komisi IIi DPRD Bandar Lampung beberapa waktu lalu.
Sejak saat itu, perusahaan hanya beroperasi di malam hari. Jika biasanya dia setiap saat harus membersihkan rumah, saat ini hanya sekali atau dua kali saja.
“Sedikit berubah, sejak hearing kemarin, mesin beroperasinya cuma malam hari, kalau siang mesin mati,” ungkapnya.
Andi juga mengirimkan video dan fhoto debu batubara yang mengotori teras rumahnya. Dalam foto dan video yang dikirimkan Andi, debu asap dari pembakaran batubara itu berbentuk seperti serbuk kopi dan berwarna hitam pekat.
Agus Safrudin, warga lainya mengaku khawatir dengan kondisi kesehatan anak-anak dilngkunganya.
Ia menuturkan tak sedikit anak kecil di lingkungannya yang mendadak batuk dan sakit. Apalagi sampai ada yang demam.
“Banyak anak-anak yang batuk dan pilek karena kena debu ini, bahkan sampai demam. Kalau ada warga yang sakit berobat pakai biaya sendiri, tak pernah ada kompensasi dari perusahaan,” katanya.
Ia mengaku warga sepakat akan segera melaporkan permasalah itu ke Walikota Bandar Lampung untuk ditindaklanjuti. Sebab, kata dia, pihak perusahaan belum juga menindaklanjuti hasil hearing untuk memperhatikan warga sekitar.
“Akan kami laporkan ke Walikota, kita berharap dapat direspon seluruh keluhan warga,” harapnya.
Terpisah, anggota Komisi III DPRD kota Bandar Lampung, Endang Asnawi menyayangkan masih adanya masalah yang terjadi.
Secara tegas, ia meminta agar berbagai keluhan warga seharusnya segera disikapi dan dicarikan solusinya oleh PT LDC.
“Jangan tutup mata dong, ini kan menyangkut masalah orang banyak, harus segera disikapi,” tegasnya.
Ia mencontohkan, hal yang perlu disikapi perusahaan misalnya dengan memberi bantuan pengobatan kepada warga yang sakit atau membawa warga yang sakit berobat.
Sayangnya, hingga saat ini belum ada keterangan resmi yang dikeluarkan manajemen PT LDC mengenai langkah yang telah dan akan dilakukan dalam menyikapi persoalan itu.(*)












