Disdikbud Lampung Tengah Dorong Penanganan Siswa Merokok dengan Pembinaan, Bukan Sekadar Sanksi

INTAILAMPUNG.COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lampung Tengah menegaskan bahwa penanganan siswa yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah tidak semata-mata dilakukan dengan memberikan sanksi. Pendekatan pembinaan, pemahaman, perubahan perilaku, serta penanaman rasa tanggung jawab dinilai menjadi bagian penting dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Tengah, Dr. Nur Rohman, S.E., M.Sos.I., melalui materi edukasi yang disampaikan kepada lingkungan pendidikan, menekankan pentingnya peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam menangani siswa yang merokok secara bijak dan manusiawi.

Menurutnya, ketika seorang siswa diketahui merokok, guru BK perlu menghadapi situasi dengan tenang serta tetap menjaga perasaan dan martabat siswa. Langkah penanganan harus dilakukan secara terukur agar persoalan tidak justru berkembang menjadi tekanan bagi siswa.

Kadisdikbud Lamteng menyampaikan bahwa, terdapat sejumlah langkah yang perlu dilakukan guru BK. Pertama, memastikan bahwa siswa benar-benar merokok dan informasi yang diterima memiliki dasar yang valid. Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahan dalam memberikan penanganan maupun penilaian terhadap siswa.

Selanjutnya, setiap kejadian perlu dicatat secara lengkap, mulai dari waktu, tempat hingga kronologi peristiwa. Pencatatan tersebut menjadi bahan dalam proses penanganan dan tindak lanjut oleh pihak sekolah.

Guru BK juga diminta mengamankan situasi dengan mendekati siswa secara tenang serta memastikan kondisi tetap kondusif. Penanganan tidak dianjurkan dilakukan dengan cara mempermalukan siswa di hadapan teman-temannya.

Sebaliknya, siswa perlu dipanggil dan diajak berbicara secara pribadi di tempat yang nyaman. Komunikasi tersebut diharapkan membuka ruang bagi siswa untuk menjelaskan kondisi yang sebenarnya sekaligus memahami dampak dari perilakunya.

Dr. Nur Rohman menekankan, tujuan utama penanganan bukan sekadar membuat siswa takut terhadap hukuman. Lebih jauh, siswa diharapkan mampu memahami penyebab dan dampak perilakunya, bersedia melakukan perubahan, serta belajar bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.

  Malam Ini, Basarnas Turunkan Satu Tim Cari Korban Hanyut

Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat peran guru BK sebagai pendamping siswa. Guru tidak hanya bertugas memberikan teguran ketika terjadi pelanggaran, tetapi juga membantu siswa menemukan jalan untuk memperbaiki diri.

“Bukan karena takut dihukum, tapi belajar bertanggung jawab dan mau memperbaiki diri,” ujar Nur Rohman dalam pesan yang disampaikan dalam materi edukasi Disdikbud Lampung Tengah.

Disdikbud Lampung Tengah berharap pola penanganan yang mengedepankan pembinaan tersebut dapat menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, aman, nyaman, dan bebas rokok.

Dengan demikian, persoalan siswa merokok diharapkan tidak berhenti pada pemberian sanksi, tetapi menjadi momentum pendidikan karakter agar siswa memahami konsekuensi setiap tindakan sekaligus memiliki kemauan untuk berubah menjadi lebih baik. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *