Masyarakat Butuh Tatanan, Bukan Tontonan

Ket, Foto: Kantor Pemkab Lamteng.

OPINI : Mungkin, pidato Presiden RI, Prabowo Subianto saat membuka Rakornas awal Februari lalu, sesungguhnya bukan sekadar pidato seremonial. Prabowo menyoroti bagaimana kinerja seorang pemimpin di daerah yang diharapkan masyarakat. Bukan pemimpin yang hanya “Tampak Bekerja” (Simbolis/Seremonial).

Karena, masyarakat butuh pemimpin yang benar-benar “Bekerja Nyata” (Substansial).

Dalam pidato presiden di hadapan ratusan Kepala daerah se-lndonesia itu, Presiden menegaskan bahwa rakyat Indonesia mendambakan pemimpin yang jujur, adil, dan bekerja untuk kepentingan masyarakat luas, pesan itu adalah pengingat keras sekaligus arah moral bagi seluruh aparatur pemerintahan, khususnya pemimpin di daerah.

Artinya, seorang pemimpin adalah motor penggerak bagi bawahannya, bukan di gerakkan oleh bawahannya dengan bahasa laporan “Siap, dan Beres Pak”. Artinya, pemimpin harus berani, dan mampu mengambil sikap, dalam situasi apapun, karena hal itu sangat krusial dibanding sekadar hadir, buka, resmi, potong pita, (Seremonial). Yang tidak ada sama sekali azaz manfaatnya bagi masyarakat.

Sesuai dengan arahan dari Presiden, pemimpin daerah harus mengurangi kegiatan Dinas yang terlihat seperti pesta atau pemborosan anggaran. Pemimpin harus peka pada keadaan, harus open, apa yang diharapkan oleh masyarakat, bukan hanya menunggu laporan, dan menjadi teladan, karena sikap pemimpin akan diikuti oleh aparatur di bawahnya. Jika pemimpin giat bekerja nyata, birokrasi akan mengikuti. Jika pemimpin hanya fokus pencitraan, birokrasi akan ikut seremonial.

Pemimpin di tuntut proaktif, bukan reaktif. Karena, pemimpin yang substansial tidak menunggu viral atau instruksi pusat baru bergerak. Mereka turun ke lapangan, mendengar langsung, dan mencari akar dari masalah, kehadiran yang dirasakan masyarakat, bukan sekedar dlihat.

Masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berpidato di podium acara, tetapi sosok pemimpin yang kehadirannya terasa melalui kebijakan yang memudahkan hidup mereka.

  Refleksi Akhir Tahun 2025 : Sejarah Kelam Yang Terulang, Antara Harapan dan Kenyataan Inkonsisten Kebijakan dan Pengawasan

Seremonial sesekali diperlukan untuk apresiasi, namun sikap dan kebijakan nyata pemimpin di daerah, adalah fondasi utama membangun daerah. Pemimpin daerah yang sejati adalah mereka yang berani mengambil risiko untuk perubahan, bukan sekadar “Penjaga” status quo.

By: RIKI ANTONI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *