Ketika Pikiran dan Gagasan Tidak Lagi Dihargai

INTAILAMPUNG.COM – Masih banyak yang berfikir ingin Kabupaten Lampung Tengah maju. Namun angan-angan tersebut terkadang pupus ditengah jalan, lantaran ide pemikiran dan gagasan tidak lagi dihargai. Jalan instan seringkali jadi tujuan hanya untuk sekedar memuaskan hasrat pemimpin.

Ditengah tuntutan birokrasi yang serba taktis, cepat dan berbasis angka, sosok Kepala Dinas (ITS) tampil beda. Berlatar belakang pendidikan dan keahliannya di bidang ekonomi, ia justru lebih sering terlihat mendekati kebijakan publik dengan kacamata filsafat.

Bagi yang mengenal dirinya, baik teman sejawat, rekan kerja, maupun keluarga, ia adalah sosok ekonom yang tidak melulu bicara soal pertumbuhan PDB atau serapan anggaran, melainkan tentang esensi, etika, dan “Manusia” di balik angka-angka tersebut.

​Sosok Kadis ini tentunya sangat memahami rumus efisiensi, kurva penawaran, dan target-target makro. Namun, dalam komunikasi, dan obrolan ringan dengannya, ia kerap membuat pikiran kita bekerja.

Menurutnya, pikiran kritis tidak lagi memiliki nilai ekonomi jika tidak bisa menghasilkan metrik digital secara instan. Dimana, menjadi kritis dan mendalam sering kali dicap sebagai hal yang rumit, atau membosankan, sementara kedangkalan berpikir dirayakan sebagai bentuk kedekatan dengan massa.
​Ketika masyarakat berhenti menghargai proses berpikir, mereka sedang menyerahkan masa depannya kepada manipulasi.

​”Ekonomi mengajarkan kita cara mengalokasikan sumber daya yang terbatas. Tetapi filsafat memberi tahu kita mengapa kita harus peduli pada alokasi tersebut dan untuk siapa keadilan itu ditegakkan,” ujarnya.

​Di saat banyak pejabat terjebak dalam gaya kerja praktis, atau asal program selesai dan laporan keuangan beres. Ia bahkan memilih jalan yang lebih sunyi namun berdampak panjang. Ia menerapkan pendekatan filsafat etika dalam menyusun program kerja, atau saat sekedar hanya mengobrol santai.

  Pemkab Lamteng Terima Kunker Pemkab Lamandau

Bahkan ia menyebut saat ini masyarakat kehilangan penghargaan terhadap kedalaman berpikir. Kecepatan telah menggantikan ketepatan, dan jumlah likes atau viralitas kini dianggap lebih valid dari pada bobot sebuah gagasan, dari hasil berpikir.

​Fenomena ini menandai pergeseran budaya yang mengkhawatirkan, di mana ruang diskursus publik tidak lagi diisi oleh argumen yang sehat, melainkan di isi oleh reaksi cepat tanpa refleksi.

​Dimana, pemikiran yang dibangun lewat riset bertahun-tahun, tenggelam oleh opini tanpa dasar yang dikemas secara kontroversial.

Saat ini kita sedang menyaksikan sebuah era di mana, kecepatan di atas Kebenaran. Publik lebih memilih informasi yang cepat saji dari pada kebenaran yang membutuhkan proses waktu untuk dicerna.

​Menjadi kritis dan mendalam suatu hal sering kali dicap sebagai hal yang rumit, atau membosankan, sementara kedangkalan berpikir dirayakan sebagai bentuk kedekatan dengan massa.

​Ketika masyarakat berhenti menghargai proses berpikir, mereka sedang menyerahkan masa depannya kepada manipulasi.

Artinya, tanpa pikiran yang dihargai, kita hanya menjadi konsumen pasif dari narasi yang dangkal.

Saat ini kita hidup di era di mana informasi bergerak lebih cepat daripada kedipan mata. Namun, ironisnya, kecepatan ini tidak berbanding lurus dengan kedalaman kita berpikir, atau mengolah pikiran itu.

​”Kita perlahan-lahan berubah menjadi masyarakat yang “mengetahui segalanya, tetapi tidak memahami apa-apa,” tukasnya.

la menyebut, kekayaan seorang manusia tidak diukur dari seberapa penuh isi dompetnya, melainkan seberapa bernyawa isi pikirannya.

Jika kita terus membiarkan diri kita hanyut dalam arus kedangkalan ini, kita sedang bergerak menuju masa depan yang dipenuhi oleh robot bernyawa, artinya manusia yang bisa berbicara dan bergerak, namun kehilangan kesadaran esensiasinya untuk berpikir.

  Yusak Minta Tim Pemenangan Segera Sosialisasi Visi-Misi dan Program Kerja, Ajak Masyarakat dan Keluarga Pilih ASRI

Artinya, inti dari kutipan bahasa Kadis ini, ingin menyampaikan kepada kita semua khususnya masyarakat Kab.Lamteng, untuk menghidupkan kembali forum diskusi, literasi, dan jurnal independen yang memberi ruang bagi kita untuk berpikir.

​”Jika kita terus membiarkan pikiran kita tidak lagi dihargai, kita akan tiba di satu titik di mana peradaban ini dijalankan tanpa menggunakan akal dan budi,” pungkas Irfan Toga. (rki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *