Dari Tanah Konflik PT BSA, Petani Anak Tuha Mengadu Pada Negara

INTAILAMPUNG.COM – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Anak Tuha, Kabupaten Lampung Tengah, berlangsung dengan suasana berbeda. Di tengah kibaran Merah Putih, masyarakat yang tergabung dalam Serikat Petani Lampung (SPL) justru mengingatkan negara bahwa bagi mereka, kemerdekaan belum sepenuhnya hadir.

Upacara digelar pada Senin, 17 Agustus 2026, pukul 09.00 WIB, tepat di depan tenda perjuangan yang berdiri di lokasi lahan yang tengah disengketakan dengan PT Bumi Sentosa Abadi (BSA).

Bagi para petani dari tiga kampung di Kecamatan Anak Tuha tersebut, upacara bukan sekadar seremoni tahunan. Pengibaran Sang Saka Merah Putih dijadikan momentum untuk menyampaikan pesan terbuka kepada pemerintah mengenai konflik agraria yang hingga kini masih mereka hadapi.

Rangkaian upacara berlangsung sebagaimana lazimnya peringatan kemerdekaan. Dimulai dengan pengibaran bendera Merah Putih, mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pendahulu bangsa, pembacaan Pembukaan UUD 1945, pembacaan Pancasila yang diikuti peserta upacara, hingga doa.

Namun, bagian paling menyita perhatian adalah laporan simbolik pemimpin upacara yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia.

Dalam laporan tersebut, petani menyampaikan bahwa secara historis Indonesia memang telah merdeka dari penjajahan bangsa asing. Namun, menurut mereka, kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan ketika tanah yang menjadi sumber kehidupan masih berada dalam konflik.

“Kami memang telah merdeka dari penjajahan bangsa asing, tetapi bagi kami kemerdekaan belum selesai ketika ruang hidup dan tanah tempat kami bertani masih terancam dirampas,” ucap pemimpin upacara.

Pesan itu kemudian dipertegas dengan kritik terhadap ketimpangan kekuatan antara masyarakat dan pemilik modal.

Para petani mempertanyakan bagaimana rakyat dapat disebut benar-benar merdeka apabila mempertahankan tanah dan ruang hidup justru membuat mereka berhadapan dengan ancaman kriminalisasi.

  DPRD Lamteng Pamerkan Potensi Unggulan di Event Lampung Fair 2019

“Negara tidak boleh hanya hadir ketika bendera dikibarkan dan upacara berlangsung,” demikian inti pesan yang disampaikan masyarakat.

Menurut mereka, negara harus hadir ketika rakyat kehilangan tanah, ketika ruang hidup masyarakat terancam, dan ketika masyarakat kecil berhadapan dengan kekuatan ekonomi maupun politik yang jauh lebih besar.

“Untuk Siapa Kemerdekaan Itu Hadir?”

Pertanyaan paling tajam disampaikan masyarakat dalam refleksi mereka pada momentum HUT ke-81 RI.

Mereka tidak lagi sekadar mempertanyakan apakah Indonesia sudah merdeka. Lebih jauh, mereka mempertanyakan untuk siapa kemerdekaan itu hadir.

Bagi para petani, kemerdekaan kehilangan makna apabila rakyat masih kehilangan tanah. Kemerdekaan juga dinilai hanya menjadi slogan apabila petani merasa takut mempertahankan sumber penghidupannya.

Begitu pula ketika rakyat yang mempertahankan ruang hidup justru dipandang sebagai pihak yang mengganggu kepentingan pembangunan.

Pesan tersebut menjadi kontras dengan suasana perayaan kemerdekaan di berbagai daerah yang umumnya dipenuhi perlombaan, upacara, dan perayaan.

Di Anak Tuha, Merah Putih dikibarkan di tengah konflik agraria.

Bendera yang sama menjadi simbol kemerdekaan, sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan kemerdekaan bagi sebagian rakyat belum berhenti pada terbebasnya Indonesia dari penjajahan.

Perjuangan Belum Berakhir

Masyarakat SPL menegaskan perjuangan mereka belum selesai. Mereka menyatakan akan terus memperjuangkan hak atas tanah dan ruang hidup yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Mereka juga menunggu negara menjalankan mandat konstitusionalnya untuk melindungi segenap rakyat Indonesia dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Bagi mereka, peringatan kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan 81 tahun silam.

Tetapi juga tentang melihat apakah cita-cita kemerdekaan tersebut benar-benar telah dirasakan oleh rakyat di tingkat paling bawah.

Selama masih ada rakyat yang kehilangan tanah, selama masih ada petani yang merasa terancam ketika mempertahankan ruang hidup, dan selama keadilan agraria belum terwujud, maka perjuangan menghadirkan kemerdekaan yang sesungguhnya belum selesai.

  Antisipasi Arus Mudik Jelang Hari Raya Indul Fitri 1446 H, Polda Lampung Siapkan Delay System

Di tengah konflik dengan PT BSA, para petani Anak Tuha memilih merayakan kemerdekaan bukan dengan melupakan persoalan mereka, tetapi dengan mengibarkan Merah Putih di atas tanah yang sedang mereka perjuangkan.

Dan dari sana, satu pertanyaan kembali diarahkan kepada negara: “Untuk siapa kemerdekaan itu hadir?”

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *