Mantan Kakam Sekaligus Ketua Komite SMPN 1 Putra Rumbia Diduga Gelapkan Dana Iuran Pembangunan Pagar Sekolah

INTAILAMPUNG.COM – Ketua Komite sekaligus mantan Kepala Kampung Bina Karya Utama, Kecamatan Putra Rumbia, Lampung Tengah Mariono diduga menggelapkan dana iuran pembangunan pagar Sekolah SMPN 1 setempat.

Hal itu terungkap setelah salah satu dari wali murid Kelas.lX yang mengatakan bahwa pada tahun 2019 lalu, para wali murid dikumpulkan oleh Ketua komite Sekolah dengan hasil rapat bahwa akan adanya iuran dengan alasan untuk pembangunan pagar Sekolah. Dimana pihak komite memunggut iuran sebesar Rp 300 ribu per wali murid dengan dalih untuk pembuatan pagar Sekolah. Namun hingga saat ini pagar sekolah yang dimaksud tidak pernah terealisasi.

“Ya kalau alasan pihak komite pada saat itu untuk pembuatan pagar sekolah. Kalau tidak salah yang diminta iuran hanya murid kelas lX, dengan jumlah murid kalau tidak salah 100 murid lebih,” ujar wali murid yang meminta identitasnya tidak di publis, kepada awak media ini, Rabu (13/07/2022).

Selain itu, menurut wali murid tersebut, sempat ada pembuatan batako di lokasi sekolah yang rencananya akan di bangun pagar itu, namun setelah batako itu di buat bukannya untuk pembuatan pagar, tetapi di bawa oleh Ketua komite dengan dalih untuk pembuatan bedah rumah.

Baca Juga

“Ya, maksud kami kalau pembuatan pagar sekolah itu tidak jadi, kenapa uang iuran itu tidak dikembalikan,” keluhnya.

Saat dikonfirmasi terkait hal ini kepada mantan Kakam, Mariono dirinya mengatakan bahwa hal itu sudah diduganya, dan ada kaitannya dengan Politik Pilkakam yang akan di gelar di kampungnya pada bulan Agustus nanti. Bahkan diri membenarkan informasi terkait iuran yang dimaksud.

“Ya benar itu, namun saat ini saya sudah bukan Ketua komite lagi. Kalau tidak salah jumlah anggaran yang terkumpul pada saat itu sejumlah kurang lebih Rp 35 juta, karena sebagian dana itu sudah di belikan pasir, semen, dan alat untuk pembuatan batako pagar. Jadi hanya sebagian saja yang bisa dikembalikan, dan pembatalan pembangunan pagar itu, karena ada salah satu wali murid yang mengatakan bahwa hal itu adalah pungli. Akhirnya, pembangunan pagar itu dibatalkan,” jelas Mariono. (red)

LAINNYA