INTAILAMPUNG.COM — Perhatian pemerintah terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat kembali diwujudkan melalui penyaluran bantuan pangan di Kabupaten Lampung Tengah, Rabu (26/8/2026).
Kementerian Pertanian Republik Indonesia melakukan kunjungan kerja ke Kampung Mekar Jaya, Kecamatan Bangun Rejo, Lampung Tengah, sekaligus meninjau sejumlah lokasi pembibitan kopi dan kakao.

Kunjungan tersebut dipimpin Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, M.P., bersama Direktur Utama Perum Bulog Mayjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani. Turut hadir Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri, Dandim 0411/KM Letkol Inf Noval Darmawan, S.H., M.I.P., Kapolres Lampung Tengah AKBP Charles Pandapotan Tampubolon, S.I.K., S.H., M.H., serta unsur Forkopimda dan jajaran terkait.
Mentan Amran mengatakan, bantuan pangan tersebut merupakan kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Secara nasional, bantuan pangan menyasar puluhan juta penerima manfaat, sementara untuk Provinsi Lampung mencapai sekitar 1,2 juta penerima.
“Bapak Presiden melalui kebijakannya memberikan bantuan pangan untuk 33,4 juta orang seluruh Indonesia. Khusus di Lampung itu 1,2 juta orang. Hari ini kita mulai bagi, insyaallah 1–2 bulan selesai pembagian 1,2 juta orang ini,” kata Amran.
Ia juga menyampaikan salam hormat Presiden kepada masyarakat Lampung. Menurut Amran, bantuan pangan tidak hanya menjadi upaya menjaga daya beli masyarakat, tetapi berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah untuk memperkuat sektor produksi pangan nasional.
Ia menegaskan, pemerintah saat ini memiliki stok beras yang sangat besar. Bahkan, stok beras yang dikuasai pemerintah disebut mencapai 5,2 juta ton, angka yang menurutnya merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.
“Di sisi lain memang karena beras kita, stok kita tertinggi sepanjang sejarah. Di pemerintahan Bapak Prabowo stok kita 5,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah,” ujarnya.
Besarnya stok tersebut bahkan membuat pemerintah harus menambah kapasitas penyimpanan. Amran menyebut kapasitas gudang yang tersedia sekitar 3 juta ton, sehingga pemerintah telah menyewa gudang tambahan hingga 2 juta ton. Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang Indonesia meningkatkan ekspor beras.
Amran mengungkapkan, Indonesia telah melakukan ekspor beras ke sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Palestina dan Arab Saudi.
“Kita sudah ekspor ke Malaysia. Kalau sudah ekspor kan tidak impor, masa mau impor?” tegasnya.
Untuk tahap awal, ekspor ke Malaysia telah berjalan sekitar 1.000 ton. Pemerintah pun berharap volume ekspor dapat terus ditingkatkan, mengingat kebutuhan beras Malaysia sangat besar.
“Target kita mudah-mudahan bisa, karena kebutuhan Malaysia minimal 200.000 ton. Total kebutuhan Malaysia 1 juta ton,” jelas Amran.

Lampung Dapat 37.277 Ton Beras
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Mayjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, bantuan pangan yang disalurkan merupakan program selama tiga bulan, yakni untuk periode Juli, Agustus dan September. Dengan skema tersebut, setiap penerima manfaat memperoleh total 30 kilogram beras.
“Bantuan pangan itu sesuai dengan perintah dari Bapak Presiden, ada bantuan pangan untuk bulan Juli, Agustus, September. Tiga bulan. Nah, tiga bulan itu berarti 30 kilogram,” jelas Ahmad Rizal.
Secara nasional, bantuan tersebut diberikan kepada sekitar 22,2 juta penerima manfaat. Khusus Provinsi Lampung, terdapat 1.242.582 penerima manfaat dengan total bantuan beras mencapai sekitar 37.277 ton.
Sedangkan di Kampung Mekar Jaya, Kecamatan Bangun Rejo, terdapat 581 penerima manfaat.
Ahmad Rizal menilai bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang membutuhkan, sekaligus menjadi bagian dari momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Beliau memberikan perhatian sekaligus tiga bulan. Supaya betul-betul ini hadiah Hari Kemerdekaan juga kemarin. Kan baru 17 Agustus nih. Ini hadiah dari beliau untuk masyarakat yang menengah ke bawah,” katanya.

Dorong Kopi dan Kakao Jadi Komoditas Ekspor
Selain menyerahkan bantuan pangan, kunjungan Menteri Pertanian juga diarahkan untuk melihat langsung potensi pengembangan komoditas perkebunan di Lampung Tengah, khususnya melalui pembibitan kopi dan kakao.
Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap sektor pertanian di daerahnya.
Menurutnya, persoalan petani saat ini tidak hanya berkaitan dengan hasil produksi, tetapi juga menyangkut ketersediaan pupuk, bibit hingga persoalan kekeringan.
“Sekarang permasalahan-permasalahan di petani itu masalah pupuk, terutama juga masalah bibit, dan juga sekarang ini masalah kekeringan,” ujar Koheri.
Ia menyebut pemerintah juga telah memberikan berbagai dukungan, termasuk bantuan sumur bor dan pompa untuk membantu petani menghadapi persoalan ketersediaan air.
Untuk bantuan pangan sendiri, Koheri menyebut Lampung Tengah mendapatkan alokasi bagi sekitar 189 ribu penerima manfaat.
“Untuk Lampung Tengah ada 189.000 orang yang didapatkan untuk bantuan pangan, dari 1.200.000 dari Provinsi Lampung,” katanya.
Koheri menambahkan, peninjauan pembibitan kopi dan kakao menjadi bagian penting karena tanaman perkebunan tersebut memiliki prospek jangka panjang sekaligus peluang besar untuk dikembangkan sebagai komoditas berorientasi ekspor.
“Harapan kita tanaman keras ini dapat ditanam karena ini tentunya untuk kebutuhan ekspor dari pemerintah nasional,” ujarnya.
Kunjungan Menteri Pertanian tersebut sekaligus memperlihatkan dua sisi kebijakan pangan nasional: menjamin kebutuhan masyarakat melalui bantuan pangan sekaligus memperkuat produktivitas pertanian dan membuka pasar ekspor bagi komoditas hasil petani Indonesia.
Bagi Lampung Tengah, perhatian tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyaluran bantuan, tetapi berlanjut pada penguatan sektor pertanian, perkebunan, ketersediaan sarana produksi hingga peningkatan kesejahteraan petani. (Red)












