INTAILAMPUNG.COM – Penularan tuberkulosis (TBC) tidak selalu disadari oleh orang-orang di sekitar penderita. Anggota keluarga yang tinggal serumah, rekan kerja, hingga orang yang sering berinteraksi dekat berpotensi terpapar bakteri penyebab penyakit tersebut. Karena itu, pelacakan kontak dan terapi pencegahan menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan TBC di Kabupaten Lampung Tengah.
Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Tengah saat ini menjalankan program tracing atau pelacakan kontak TBC terintegrasi yang didukung anggaran Kementerian Kesehatan. Program tersebut menyasar 220 titik lokus, dengan target pemeriksaan sekitar 100 orang pada setiap lokus.
Kegiatan yang telah berjalan sejak Juli 2026 itu sempat dihentikan sementara pada 26 September 2026 dan direncanakan kembali dilanjutkan ke sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Pubian.
Koordinator tim pelaksana, Tasbiah, menjelaskan bahwa pelacakan kontak dilakukan oleh petugas puskesmas dengan mendata orang-orang yang tinggal serumah maupun memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
“Ketika ditemukan penderita TBC, kita harus mencari tahu apakah ada orang yang menularkan kepadanya atau justru ada orang lain yang sudah tertular darinya,” jelasnya saat diwawancarai.
Menurut dia, langkah tersebut tidak boleh berhenti pada penemuan satu pasien. Pemeriksaan terhadap orang-orang di sekitarnya diperlukan agar kasus yang belum terdeteksi dapat ditemukan lebih awal, sekaligus mencegah penularan lebih luas.
Lampung Tengah Masuk Tiga Lokus Prioritas di Provinsi Lampung
Lampung Tengah menjadi salah satu dari tiga kabupaten/kota yang disebut sebagai lokus penanganan TBC di Provinsi Lampung, bersama Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan.
Tasbiah menyebut wilayah Terbanggi Besar, termasuk kawasan Bandar Jaya dan Bandar Jaya Barat, menjadi salah satu perhatian karena tingginya mobilitas penduduk dan banyaknya kawasan tempat tinggal sementara atau kos-kosan.
Kondisi tersebut membuat upaya pelacakan kontak perlu dilakukan secara intensif. Meski demikian, tingginya temuan kasus di suatu wilayah tidak serta-merta membuktikan bahwa penularan di sana paling tinggi. Jumlah penduduk, jangkauan pemeriksaan, serta kemampuan petugas menemukan pasien juga memengaruhi data yang tercatat.
Ia mencontohkan, penemuan pasien tidak hanya berasal dari puskesmas, tetapi juga rumah sakit. Pasien yang datang dengan keluhan tertentu dapat menjalani pemeriksaan lanjutan dan kemudian diketahui positif TBC.
Dalam data yang dipaparkan saat wawancara, temuan kasus dari rumah sakit disebut mencapai 1.022 kasus, sedangkan puskesmas juga berkontribusi dalam penemuan pasien melalui layanan pemeriksaan dan pelacakan kontak. Angka tersebut perlu dibaca berdasarkan periode pelaporan dan definisi data yang digunakan.
Kontak Serumah Tidak Bergejala Tetap Perlu Diperhatikan
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TBC adalah masih adanya anggapan bahwa orang yang tidak mengalami gejala tidak perlu menjalani pemeriksaan ataupun mengonsumsi obat pencegahan.
Padahal, orang yang tinggal bersama pasien TBC dapat terpapar meskipun belum menunjukkan keluhan. Karena itu, petugas kesehatan akan menilai kondisi kontak berdasarkan pemeriksaan dan pedoman medis yang berlaku.
Jika ditemukan gejala yang mengarah pada TBC, seperti batuk berkepanjangan, demam, penurunan berat badan, atau nafsu makan berkurang, orang tersebut perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Sementara itu, orang yang memenuhi kriteria untuk mendapatkan terapi pencegahan TBC dapat diberikan obat setelah dinilai oleh tenaga kesehatan dan dipastikan tidak mengalami TBC aktif.
“Kadang-kadang masyarakat bertanya, ‘Saya tidak sakit, mengapa harus minum obat?’ Ini yang perlu kita edukasi. Terapi pencegahan diberikan untuk mengurangi risiko berkembangnya penyakit TBC,” ujarnya.
Tasbiah menegaskan, masyarakat tidak seharusnya menolak pemeriksaan atau terapi pencegahan hanya karena merasa sehat. Keputusan pemberian obat tetap harus mengikuti hasil penilaian tenaga kesehatan, termasuk mempertimbangkan kondisi khusus dan kemungkinan efek samping.
TBC Bisa Diobati, Jangan Kucilkan Penderitanya
Selain mendorong pemeriksaan dini, Dinas Kesehatan Lampung Tengah juga berupaya menghilangkan stigma terhadap penderita TBC.
Tasbiah mengingatkan bahwa TBC menular terutama melalui udara ketika penderita TBC aktif mengeluarkan partikel yang mengandung bakteri, misalnya saat batuk. Penularannya bukan semata-mata melalui penggunaan piring, sendok, atau gelas secara bergantian.
Karena itu, masyarakat tidak perlu mengucilkan penderita. Upaya pencegahan yang tepat, penggunaan masker sesuai anjuran, ventilasi ruangan yang baik, serta pengobatan teratur menjadi bagian penting dalam mengendalikan penularan.
Ia juga menjelaskan bahwa penderita TBC perlu mengonsumsi obat setiap hari sesuai regimen yang ditetapkan tenaga kesehatan. Pengobatan umumnya berlangsung setidaknya enam bulan, meskipun durasinya dapat berbeda bergantung pada jenis TBC dan regimen yang digunakan.
Pasien yang mengalami mual, pusing, gatal, atau keluhan lain selama pengobatan diminta segera berkonsultasi dengan dokter atau petugas kesehatan. Pasien tidak dianjurkan menghentikan pengobatan sendiri.
Tasbiah menuturkan, penanganan TBC juga mencakup anak-anak dan kelompok lanjut usia. Pemeriksaan serta pemberian obat pada anak harus disesuaikan dengan usia, berat badan, dan kondisi klinisnya.
Pengobatan Gratis, Target Eliminasi TBC 2030
Dalam wawancara tersebut, Tasbiah menyampaikan bahwa pengobatan TBC tersedia secara gratis melalui program pemerintah. Masyarakat yang memiliki gejala atau kontak erat dengan pasien TBC diimbau memanfaatkan layanan puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan dan pendampingan.
Upaya ini sejalan dengan target nasional eliminasi TBC pada 2030. Namun, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pemerintah dan petugas kesehatan, melainkan juga pada kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, menyelesaikan pengobatan, serta mendukung orang-orang yang sedang menjalani terapi.
Ia berharap media turut membantu menyebarluaskan informasi yang benar tentang TBC, terutama mengenai pentingnya pelacakan kontak, terapi pencegahan bagi orang yang memenuhi kriteria, dan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
Dinas Kesehatan mengusung semangat TOS TB: Temukan, Obati Sampai Tuntas sebagai ajakan untuk menemukan kasus sedini mungkin dan memastikan pasien mendapatkan pengobatan hingga selesai.
“Penyakit TBC bisa diobati dan penularannya bisa dicegah. Jadi, masyarakat jangan takut untuk memeriksakan diri dan jangan mengucilkan penderita,” pungkasnya. (Red)












