LAMPUNG SELATAN — Aditya Putra Bayu Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (UNILA) Saat Wawancara Langsung dengan Awak Media pada saat grand Opening Pantai Radin Inten Bieach mengatakan, Begawi Festival lahir dari semangat mahasiswa untuk menjaga jati diri Budaya Lampung di tengah perkembangan zaman, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Adit Mahasiswa tidak hanya memiliki tanggung jawab di bidang akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral menjaga identitas daerahnya. Begawi Festival kami gagas agar masyarakat semakin mengenal adat Saibatin dan Pepadun sebagai warisan budaya yang harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Aditya.
Inilah yang menjadi pemantik bagi anak-anak muda saat ini. Pariwisata Lampung sangat potensial, tetapi dari segi publikasi dan marketing masih sangat kurang. Maka dari itu, kami memadukan budaya dan pariwisata. Sebenarnya kegiatan ini bisa diadakan di mana saja, tetapi kami memilih di pinggir pantai karena sekaligus untuk mendemonstrasikan
Pariwisata di Lampung bahwa di Lampung memiliki pantai yang indah dan layak untuk dinikmati oleh masyarakat.
Terkait pariwisata, Radin Inten Beach ini merupakan pengembangan dari Pantai Pasir Putih. Sejauh perkembangan yang dilakukan, Radin Inten Beach terbagi menjadi dua segmen karena ini merupakan relokasi dari Pantai Pasir Putih. Oleh karena itu, kami menamainya Radin Inten Beach New Pasir Putih.
Melalui konsep The New Pasir Putih, kami melakukan branding Pasir Putih dengan menambahkan fasilitas, seperti cottage eksekutif agar terlihat lebih mewah dan dikolaborasikan juga dengan budaya, bagaimana wisatawan tidak menikmati pariwisatanya, tetapi juga dapat menikmati budaya Lampung.
Target grand opening Radin Inten Beach adalah sebagai sarana promosi bagi pantai-pantai yang ada di Lampung, sekaligus mendorong destinasi wisata lainnya agar ikut berkembang tidak hanya Radin Inten Beach. Tentunya masih ada perbaikan-perbaikan dan pembenahan. Tetapi ini adalah langkah awal untuk Lampung menjadi lebih baik lagi.
Fasilitas yang ada sarana UMKM, pura, dan kontes-kontes yang dapat dinikmati. kemudian ada kafe di sepanjang garis pantai sebagai bagian dari filosofinya. Wisatawan bisa menikmati suasana kafe di tepi pantai sambil mendengarkan irama-irama musik sebagai bentuk perpaduan antara wisata dan budaya.
Rangkaian acara dilaksanakan selama tiga hari, yaitu pada tanggal (10-12), pada hari pertama dilakukan pengambilan sampah dan relokasi. Hari kedua mengangkat tema budaya Lampung dengan mengkombinasikan budaya Lampung dan sejarah Lampung melalui kolaborasi adat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin mereka bisa guyub, menyatu, simpul, dan mencapai kesepakatan untuk menyelenggarakan acara bersama di tengah perbedaan adat.
Menurut Aditya Putra Bayu-Presiden BEM Unila, hal tersebut membuktikan bahwa kegiatan ini dapat dilaksanakan melalui semangat kebersamaan.(ella)







